Beranda > SanaSini, Umum > Sedekah di Bandara

Sedekah di Bandara

Masih seputar bandara dan check-in.270620081169sq6

Akhir januari, kami sekeluarga berpergian ke malang dan jogjakarta. Karena Istri saya orang Jogjakarta, dan sudah menjadi urutan wajib kalau ke jawa untuk mampir di jogja. Dan memang ini adalah acara favorit saya. Kuliner Jogjakarta.Eits, jangan dianggap kuliner seperti pak bondan. Kuliner saya lebih menyerupai Kere Kuliner. Sudah tahu kan maksudnya, kuliner untuk orang-orang kere. Ya, memang kere, karena jaman kuliah dulu, saya memang suka hunting tempat makan murah nan mepet. Maklum, waktu jadi mahasiswa dulu, tidak ada istilah tanggal muda atau tanggal tua, semua tua!!!… ini dia daftarnya :

1. Angkringan mas Jendral di selokan mataram wilayah seturan. dekat sama kos saya

2. Angkringan di belakang gelanggang mahasiswa UGM. paling pas kalau habis kongkow2

3. Angkringan di ujung jalan kanisius, yang dekat Jalan Gejayan…. (kok angkirngan semua ya :D).

4. Warung parasmanan (lupa namanya), didalam pogung Lor, yang sambelnya minta ampun pedasnya.

5. Warung Mak’e di Pogung Baru yang ruaammmeee banget, karena nasinya buaaannnyyyaak. Lauknya seiprit. Nah justru ini yang pas, harga murah perut mampet sampe sore.

6. Mbok Galak

7. dll.

Waduh maaf teman-teman, ngelantur sampai Mbok Galak.

kembali ke tema diatas.

Nah di malang kami membeli oleh-oleh berupa madu spesial. Spesial karena yang jual bilang itu madu spesial. saya juga tidak tahu kenapa. Tidak tanggung-tanggung, istri saya memborong sampa 4 botol sekaligus, botolnya sebesar botol sirup Marjan itu.

Setelah keempat botol itu jalan-jalan ke joja sebentar, tibalah saatnya kami kembali ke balikpapan. Kami berangkat ke balikpapan via jogjakarta menggunakan pesawat Mandala.

Tiba di bandara adisucipto, kami check-in lalu membayar Airport-Tax. Setelah itu masuk ke ruang tunggu. Nah disinilah masalah timbul.

Entah karena kebodohan saya, atau memang saya yang katrox, tapi botol-botol madu kami di “tangkap” petugas ruang tunggu. Dan mulailah mereka menerangkan tentang undang-undang penerbangan nomor sekian-sekian yang meng”haramkan” membawa botol berisi cairan. hanya diijinkan membawa 2 botol saja. Dilanjutkan kuliah singkat tentang bahaya ini bahaya itu yang bisa diakibatkan oleh botol madu tersebut.

Nah, panik lah istri saya, yang sudah konferensi pers kemana-mana akan membawa oleh-oleh madu. Saya memutuskan untuk memberikan 2 botol kepada pengantar kami, untuk dikirimkan via jasa pengiriman saja. Sehingga kami tinggal membawa 2 botol sesuai peraturan yang berlaku.

Tapi…. Apakah teman-teman sekalian sudah menebak kelanjutannya?? Ya, petugas bandara tersebut bilang “Eh pak, jangan dulu. Masuk saja dulu ke ruang karantina, taruh lah “berapaaaa” gitu. Seribu kek dua ribu kek” !!!!! Saya tidak bisa mendeskripsikan kekagetan saya saat itu. Muka saya sudah menunjukkan muka paling culun yang pernah saya buat.

Saya kaget, marah, malu dan jengkel. Saya marah, karena ini adalah bandara tempat turis-turis datang. Saya malu karena si bapak yang kelihatan berwibawa itu, ternyata sama saja. Saya jengkel, karena dia munafik….kebayang kan..seribu-duaribu. Apa jadinya kalau saya benar-benar kasih dia Rp. 1000,00.

Istri saya yang sudah panik, memaksa saya untuk menuruti kata si petugas. Dengan wajah dongkol bin jengkol..eh jengkel, saya masuk ke bilik karantina yang gelap dan ada satu sofa disana, dan saya taruh 50rb di sofa itu. Karena memang hanya ada uang 50rban didalam dompet saya.

Akhirnya dengan “sedekah” 50rb, kami bebas untuk melanggar peraturan. Hmm… saya menyesal, menyesal luar biasa. Menyesal karena hanya membawa 4 botol, kenapa gak 10 botol sekalian. Jadi tiap botol “sedekah”  5rb saja, lebih murah kan.

Ada beberapa hal yang perlu dilihat dari kejadian memalukan ini.

Pertama, saya bersalah menuruti kemauan si petugas, karena peraturan itu dibuat dari pengalaman bertahun-tahun oleh insinyur-insinyur pintar. Dengan begitu, saya membahayakan diri saya juga sekian puluh penumpang lainnya. Seharusnya saya menolak “tawaran” si petugas dan hanya membawa 2 botol saja.

Kedua, korupsi memang mendarah daging di negara ini. Daripada kita repot-repot memerangi korupsi, kenapa tidak korupsi dihalalkan saja, biar negara ini bergulir dengan basis korupsi..hehehe..bukan bukan itu. Tapi kenyataan yang ada didepan kita adalah, tukang becak saja akan korupsi kalau kesempatannya ada. Jadi perlu solusi yang praktis untuk urusan seperti ini, misalnya, kalau kasus saya diatas terjadi, saya boleh teriak-teriak kalau ada yang minta disogok, dan saya akan dapat reward dari pengawas bandara. Atau saya boleh jitakin itu petugas. Atau yang lainnya…ada ide??🙂

Ketiga, dari sudut pandang keselamatan penerbangan. Begitu mudahnya penumpang berbuat “dosa” sebelum terbang. Membawa 4 botol berisi cairan bertekanan (yang seharusnya bisa 10!!), asyik mahsyuk ber-sms-an saat akan take off, mungkin sudah ada yang pernah membawa TNT 10kg lenggang kangkung dipesawat, atau yang sudah jamak adalah membawa oleh-oleh ribuan HP dan puluhan kilo Narkoba. Itu semua dilakukan dengan “sedekah” kepada “tim sukses” di bandara.

Bagaimana mengatasinya?? Mungkin dari teman-teman yang membaca artikel ini akan terlintas slogan “MARI KITA MULAI DARI DIRI KITA SENDIRI”. Menurut saya, slogan itu saat ini sudah basi dan kuno. Memulai hal-hal baik dan benar dari diri kita sendiri adalah kewajiban, tapi yang sekarang harus kita lakukan adalah, membuat orang lain juga melakukan hal-hal yang baik dan benar. Ini adalah tantangan sekarang. Caranya bisa bermacam-macam, Orde baru bisa runtuh dengan reformasi, Inggris bisa maju dengan revolusi, Jepang bisa menjadi sangat modern setelah di bom, dan perubahan-perubahan ekstrim lainnya. Saya sih tidak menghimbau untuk action-action seperti itu, tapi mungkin saja teman-teman ada yang punya ide-ide “gila” untuk urusan begini, seperti “jitak dan teriak” diatas. Dan semoga ada pihak berwenang yang membaca ide-ide kita, lalu di buat lah RUU tentang menghapus korupsi kecil kecilan ..hehehe😀

Well, akhirnya keempat botol itu sampai juga ke tangan yang berhak, 1 btl untuk kakak ipar saya, 2 botol untuk teman saya, dan 1 btl untuk kami sekeluarga….

Kategori:SanaSini, Umum Tag:,
  1. Tri Setyo Wijanarko
    Juli 21, 2009 pukul 10:28 am

    gini mas, sebenernya memang itu sudah menjadi aturan.. untuk zat cari yang lebih dari 100ml memang nggak boleh masuk kabin pesawat, kalo mau silahkan dimasukkan ke dalam kardus ataupun koper dan nanti ditaruh saja dibagasi pesawat.

    untuk domestik memang sedikit longgar aturannya (nggak tau kenapa) , misal untuk parfum, lotion, ataupun air minum dan lain2 yang lebih dari 100ml masih bisa masuk dalam kabin, tapi kalo penerbangan international nggak boleh. bisanya dimasukkan dalam koper lalu nanti ada dibagasi pesawat..

    • guladig
      Juli 24, 2009 pukul 3:13 pm

      Betul mas, memang sudah diatur oleh undang-undang nya. Dan saya pasti akan mengikutinya, hanya ternyata petugas yang “notabene” harus menegeakkan peraturan, malah melanggar nya sendiri dengan cara yang tidak elegan dan tidak simpatik. coba kalau ini dialami oleh turis-turis manca, mau ditaruh dimana citra bangsa ini??
      Well, nobody perfect. Mungkin si bapak itu lagi perlu uang untuk anaknya sekolah atau ada keluarganya yang sakit. di ikhlaskan saja.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: