Beranda > Kuliner, Umum > Mang Engking Ku

Mang Engking Ku

mang-engking0Hari jumat siang yang lalu, tepatnya tanggal 10 Juli 2009, kami sekeluarga merayakan ulang tahun ibunda kami tercinta dengan memakan selahap-lahapnya udang bakar madu nya mang Engking, Mungkin teman teman ada yang belum tahu mang Engking, walaupun dibeberapa blog nickname ini sudah beken karena udang bakar madunya.

Sebagai informasi, warung udang bakar mang Engking terletak di Jalan Godean, jogjakarta. Saya sih lupa alamat pastinya, tapi jadikan Mirota Godean sebagai patokan, dari Mirota ke arah barat kira-kira 50 meter, lalu ada jalan aspal ke selatan. Disitu pun ada plakat nama Mang Engking besar-besar. Ikuti saja jalan itu, kira kira 200mtr dari plakat tersebut.

Sebenarnya idenya sederhana, udang di rebus dulu lalu dibakar dipanggangan arang, lalu dilumeri dengan madu. Sudah. Simpel kan. Yang gak simpel adalah cara “menyajikannya”. Kenapa kata menyajikannya saya kasih tanda petik, karena menyajikan makanan itu tidak melulu taruh dipiring, kasih hiasan-hiasan, trus disurungin ke konsumen. Menyajikan makanan itu termasuk memberi image di masyarakat tentang makanan yang dibuat, menyajikan suasana tempat makan nya, menyajikan pelayan yang ramah-cantik-ganteng-keren, menyajikan hiburan-hiburan nya, dll dll.

Harus diakui, sebelum kami sekeluarga kesana, kami googling dulu tentang makanan khas yang teranyar di jogja. Tidak ada satupun blog yang mengomentari miring tentang mang Engking. Well, Penyajian image-nya sudah berhasil kan. Walaupun mungkin ada kru-kru dari mang Engking yang dengan gencar membuat blog tentang warung mang Engking sendiri…siapa tahu kan..hehehe.

Sembari makan ditengah sawah yang sejuk, disajikan pula alunan musik pop-pop beken. Tidak terlalu keras, tapi tidak juga terlalu lembut. Keponakan saya bisa ikut bersenandung dengan irama lagu tersebut, tapi kami juga bisa saling ngobrol satu sama lain. Hal ini yang sering diabaikan resto-resto lain, pokoknya setel lagu peter-pan atau de Masiv keras-keras, hingga kami harus teriak-teriak untuk sekedar bincang dengan teman. Saat pergantian lagu, tiba-tiba suasana jadi hening, tiba-tiba pula kami harus menurunkan volume suara kami, lalu keras lagi, hening lagi, keras lagi, hening lagi……. menjengkelkan. Di saat yang sama, tengah dipersiapkan dekorasi untuk sebuah acara pada malamnya. Beberapa kru sound system lagi “chek..chek..chhhheeeekkkk….satooo dooaaa teeegaaaa…..”, yang saya sendiri gak ngerti apa sih yang dia cari dari chek-chek itu. Kayaknya suaranya sama saja tuh…hehehe… Tapi dari sisi penyajian penampilan, saya acungkan jempol, mang Engking tahu yang kumau…

Nah, sekarang makanannya. Seperti sudah sedikit saya bahas diatas tadi, idenya sederhana. Udang bakar madu cuman ditata berbaris, dipiring oval, begitu saja. Tapi saya tidak perduli dengan ide “udang-dibakar-dimadu”…. (maksudnya bukan udangnya kawin lagi loh).. Yang jelas, saat udang itu masuk ke sela-sela gigi saya, dan saya kreeeesssshhhh… lembut dan madunya lumer ke lidah. hmmmmhhhh…. ennnaaaakkkkkk…..Trus dilanjutkan dengan menjilat-jilat jari yang penuh madu…. menjijikkan memang, tapi saya sudah terlanjur enak….
Wah, belum sampai disitu, kami juga memesan Gurame goreng kering dan Gurame bakar. Saya makan dua-duanya, Gurame Bakar lebih mantap dibanding yang digoreng, bumbu-bumbunya masuk sampe daging yang didalam. Manis kecapnya pas, gak kemanisan, tidak hambar juga. Pas!! Tapi sayang, posisi Gurame bakar terletak di ujung meja yang paling jauh dari saya. Dan secara tidak sadar, semua orang lebih memilih Gurame bakar, akhirnya saya harus puas dengan Gurame goreng kering. Tapi yaaaah, cukuplah. Dipadu dengan sambel cobeknya yang pedes-panas…siiippppp..
Eeiittsss, belum sampe disitu. Ada cah kangkung. Sayang, saya kurang suka dengan cah kangkungnya, bumbu dan kuahnya sih enak, sayang kangkungnya lebih banyak batangnya daripada daunnya. Seharusnya mereka bikin nama Cah Batang Kangkung. Ini mungkin karena daunnya setelah di masak jadi letoy dan tergulung-gulung. Jadi terlihat hanya batangnya saja yang besar besar hijau.
Terakhir, cumi. Kami pesan dua tipe cumi saos tiram, dan cumi goreng tepung. Mungkin karena cuminya itu baru saja dibunuh di penggorengan, makanya dagingnya itu lembut. Beda kalu pembantu dirumah goreng cumi yang sudah berkali-kali dia panaskan, dagingnya keras mirip karpet.. Dicocol sama sambel cobek, campur nasi panas-panas, hhhhmmmmhhhh…. huh hah huh hah!!!….
Terakhir dan yang paling penting, SAMBEL. Ini yang sering orang lupa kalo bikin resto. SAMBEL!… masak ayam atau ikan atau tempe atau tahu atau wader atau bebek, secara garis besar sama saja. Tapi sering disajikan dengan sambel yang ala kadarnya. Beda dengan sambel Mang Engking, saking tidak sadarnya, mangkok sambel sudah ludes… Ingatlah wahai pemilik resto, perhatikan sambalmu..hohohohoooo…😀
Jadi, penyajian kali ini, acung dua jempol deh…

Sebagai informasi saja, kami menghabiskan 2 centing nasi.
Total harga yang harus ditebus adalah Rp. 305.000 sudah dengan minumnya.

Nah, apapun penilaian saya di awal, menyantap udang madu di mang Engking adalah pengalaman tak terlupakan. Jadi kalau teman-teman ingin mencari resto di jogja yang recomended, sambangin saja mang Engking.

Oh iya, ada sedikit saran kalau ke mang Engking di selatan mirota godean ini. Karena letaknya disebelah kastil, jangan lewatkan untuk berfoto-foto didalam kastil. Didalamnya ada beberapa patung dengan baju Zirah, baju perangnya orang eropa. Selain itu kita juga bisa foto-foto di alam pedesaan dengan sawah-sawahnya. Mumpung belum dibangun Mall disebelahnya, jadi potoin aja sepuasnya.. 🙂

Wujud Udang bakar madu sebelum diserbu

Wujud Udang bakar madu sebelum diserbu

ME2

Wujud Udang Bakar Madu setelah di Serbu

ME3

Wujud Gurame goreng sebelum dilukai

Wujud Gurame Goreng setelah saya lukai dengan brutal

Wujud Gurame Goreng setelah saya lukai dengan brutal

Sebaiknya Menu ini jangan Anda Makan juga

Sebaiknya Menu ini jangan Anda Makan juga

Kategori:Kuliner, Umum Tag:, ,
  1. Tri Setyo Wijanarko
    Juli 21, 2009 pukul 10:20 am

    sekarang udangnya udah per porsi juga ya? kalo dulu terakhir kesana sekitar bulan maret semuanya masih pake itungan per kilo..
    tapi untuk udangnya emang yummiiii.. sedangkan untuk kepitingnya kurang pas dilidah saya..

  2. guladig
    Juli 25, 2009 pukul 12:29 am

    Nah itu mas, saya itu kurang bisa membedakan makanan yang enak atau tidak enak….
    Bisanya Uwennnnnnaaaakkkkkk sekali atau tidak uwennnaaaaakkk sekali….
    hehehehe…
    Kebetulan kami tidak memesan kepiting.
    Tapi saya setuju udangnya emang yummmiii…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: